Mata Minus 5.5 dapat Melahirkan Spontan (Pervaginam)

Saat hamil Sofi, saya sangat takut jika harus melahirkan melalui caesar karena mata minus. Minus mata saya sudah cukup besar, pas diukur terakhir -5,5. Teman main, teman kerja, teman social media, tenaga kesehatan yang saya temui, artikel di google yang pertama kali jika ketik tombol cari “melahirkan dengan mata minus”, hampir semua mengatakan dengan minus yang saya alami yang lebih dari 5, kemungkinan besar saya akan lahir dengan operasi caesar.

Padahal saya sangat mendambakan lahiran nyaman, minim trauma, dan tentunya melalui spontan/pervaginam (atau yang sering disebut normal), dan lekas pulih pasca melahirkan. Dengan kondisi di rumah hanya ada saya dan suami, saya sangat akan kesulitan jika mengalami masa pemulihan yang lama sambil mengurus Sofi dan proses adaptasinya. Untuk merealisasikan mimpi lahiran normal, saya sangat mempersiapkan diri dengan baik: menjaga asupan makan dengan makanan yang bergizi, berenang rutin 1 minggu satu kali, memperbanyak jalan kaki, yoga setiap pagi di rumah dan satu minggu sekali dengan instruktur yoga gentle birth. Saya sangat tidak rela jika seluruh usaha yang sudah saya lakukan, dipupus oleh satu kepercayaan yang belum tentu benar, yakni: mata minus tinggi tidak bisa melahirkan normal.

Waktu itu hari Kamis, saya bertemu Prof Yunizaf di Rumah Bersalin Melania, Matraman. Usia kehamilan sudah sekitar 36 minggu. Lalu beliau menanyakan beberapa hal menjelang persalinan, salah satunya adalah terkait kondisi mata. Prof Yunizaf juga berkata dengan mata minus yang saya alami, saya kemungkinan sulit untuk melahirkan normal karena membahayakan retina. Jika dipaksakan bisa saja saya jadi kehilangan kemampuan melihat.

Mendengar pemaparannya, saya langsung menangis, sambil sesenggukan saya memberikan informasi yang pernah saya baca di internet (hanya satu artikel ini yang isinya tidak menghakimi mata minus) tentang pengaruh mata minus dengan metode melahirkan. Untunglah ada suami saya yang hampir selalu ada setiap saya periksa dan dia membantu saya menyampaikan keinginan kami untuk melahirkan per vaginam, semaksimal apapun upaya yang harus kami tempuh, sepanjang kami bisa mencapainya akan kami coba.

Kemudian Prof Yunizaf bilang, “kalau begitu Ibu akan saya rujuk ke dokter spesialis mata, agar dicek kondisi mata Ibu. Karena kondisi mata bukan berada dalam spesifik keahlian dokter SpOG, sehingga saya tidak bisa memutuskan”. Kemudian beliau melanjutkan, “nanti kami akan mengikuti rekomendasi dokter spesialis mata untuk menentukan apakah ibu aman lahir spontan (per vaginam) atau sectio caesaria.

Salah satu filosofi #gentlebirth adalah pemberdayaan, karena itu saya dan suami tidak mudah berkompromi hanya menurut 1 pendapat, jadi kami berusaha, memberdayakan diri, agar informasi yang kami terima dan yang menjadi dasar pengambilan keputusan adalah informasi yang obyektif.

Kemudian kami pergi ke laboratorium Pramita Matraman, ternyata disana tidak ada dokter spesialis mata yang praktek dan tidak menyediakan perlengkapan seperti yang diminta Prof Yunizaf. Kemudian saya browsing-browsing ulang, hingga menemukan artikel bahwa dokter spesialis mata yang memeriksa harus dokter spesialis mata yang khusus retina. Saya menelfon Jakarta Eye Center untuk memastikan layanan yang mereka miliki dapat menjawab apa yang diminta Prof. Yunizaf dan ternyata bisa. Untuk pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan, biaya yang diperlukan di Jakarta Eye Center sekitar 900an ribu (hampir satu juta). Selain itu saya juga menemukan layanan serupa di RS PGI Cikini. Disini ada dokter spesialis retina yang rekam jejaknya sangat bagus, yaitu Dr Gilbert WS Simanjuntak. Biaya yang dikeluarkan jika periksa disini kurang lebih 400ribu rupiah.

Dengan pertimbangan biaya yang lebih ekonomis dan dokter yang memiliki rekam jejak bagus, saya dan suami kemudian mendatangi Dr. Gilbert dan beliau memeriksa kondisi mata saya dengan suatu alat (nama alatnya saya tidak tahu, hehe).

Apakah hasilnya? Kondisi retina saya bagus, normal, dan aman melahirkan spontan (per vaginam). Beliau menulis memo untuk disampaikan kepada Prof. Yunizaf. Lalu saya pun bertanya, kenapa di luar sana muncup opini jika minus lebih dari 5 akan lahiran Caesar?

Menurut beliau, minus atau bahkan tidak minus tidak mempengaruhi seorang perempuan untuk lahiran normal atau tidak. Dalam beberapa kasus, ada perempuan yang syaraf retina-nya sudah bermasalah namun semakin parah karena dipakai untuk mengejan. Namun menurut beliau, kejadian tersebut sifatnya coincident, tidak selalu sebab akibat. Jadi ada faktor-faktor khusus lain yang menentukan. Bahkan ada pasian yang minus 8, 10, namun kondisi retina-nya baik-baik saya dan bisa melahirkan spontan. Intinya, beliau bilang agar rajin memeriksa kondisi mata secara teratur agar mengetahui sehat atau tidaknya mata kita.

Jadi, sharing ini terutama saya berikan ke perempuan-perempuan dengan mata minus yang sedang hamil, berencana hamil, dan belum hamil agar memeriksakan kondisi mata terlebih dahulu jika disuruh melahirkan dengan caesar hanya karena semata-mata mata minus (bukan karena indikasi medis lainnya). Selain itu, sharing saya ini juga mudah-mudahan dapat menjadi informasi tambahan bagi yang kebingungan seperti saya dulu, 90% artikel yang saya search di google mengatakan kemungkinan saya lahiran caesar.

Pada tanggal 23 Oktober 2016, alhamdulillah saya dapat melahirkan spontan (pervaginam) dengan kondisi Ibu dan bayi sehat dengan dibantu bidan di Rumah Bersalin Melania Matraman.

Pelajaran yang penting lagi saya petik adalah kehadiran suami saat konsultasi dengan dokter kandungan. Penting banget! Bukan berarti manja, gak berani sendiri, istri ketergantungan, dan cemen seperti yang dipikirkan masyarakat. Justru dengan suami mendampingi istri periksa kandungan adalah bentuk partisipasi aktif dia untuk tahu kondisi terupdate dan tandem yang efektif saat harus mengambil suatu keputusan. Gak bener juga jika urusan domestik semua dibebankan kepada perempuan dan suami hanya bekerja mencari uang. Makanya kehadiran suami saat periksa sebenarnya adalah untuk mengetahui, memastikan, dan terlibat dalam proses kehamilan itu sendiri. Jadi suami juga seharusnya aktif bertanya kepada dokter atau jika malu-malu bertanya suami bisa me-list pertanyaan dan dititipkan ke istrinya agar ditanyain. Haha…kalau pengalaman saya dan Zae dulu, Zae bahkan lebih cerewet dari saya saat periksa ke dokter dan sibuk bikin list pertanyaan sebelumnya agar tidak lupa.