Proses Menerima Kehamilan

Saya menikah pada 13 Oktober 2015. Selepas menikah, saya dan suami memang bersepakat untuk menunda memiliki anak hingga saya berhasil mendapatkan sekolah S2. Untuk menjaga agar rencana tersebut berhasil, kami berhubungan seksual dengan cara yang aman, yakni menggunakan alat kontrasepsi (kondom). Sejauh pengamatan kami, sepertinya rencana kami akan berhasil. Saya sudah daftar IELTS preparation di IALF pada awal 2016, kemudian mengejar tes IELTS, beasiswa dan LOA setelahnya.

Berhubungan seksual dengan kondom memang mengurangi kenikmatan, entah bagaimana kami mulai mencoba untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi di bulan Januari 2016, sperma dikeluarkan di luar, namun ternyata kami juga curang karena pernah juga berhubungan seksual dengan sperma tidak dikeluaurkan di luar. Saya memiliki kebiasaan turunan Ibu saya, untuk mencata setiap siklus

Stimulasi Multiple Inteligence pada Anak Batita

Saya mengikuti kelas parenting dr. tiwi yang bertema “Stimulasi Multiple Inteligence pada Anak Batita” hari Kamis, 3 Agustus 2017. Demi ikut acara ini, saya mengajukan cuti 1 hari ke kantor, alhamdulillah disetujui oleh Direktur.

Apa yang menarik dari pemaparan dr. tiwi dan Bu Romi ini sehingga penting bagi kita sebagai orang tua untuk menerapkannya dalam mendidik anak?

Era gadget menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua jaman sekarang yang ingin membesarkan anak atau bayi dengan baik. dr tiwi dengan tegas menyampaikan “no gadget” saat mengasuh anak. Kenapa? karena otak bayi baru lahir sangat mudah menyerap sesuatu atau istilahnya “brain plasticity”. Seperti spons, jika direndam di dalam air, dia akan menyerap seluruh partikel-partikel air dan bisa mengembang lebih besar. Seperti itulah otak bayi. Namun jika bayi diberikan gadget terlalu dini, otak bayi akan berbentuk mengikuti pola stimulasi yang diberikan oleh gadget: statis, cepat, instan. Padahal bayi yang baru lahir membutuhkan stimulasi yang beraneka ragam melalui panca indra-nya agar otaknya berkembang maksimal.